Saturday, July 12, 2014

Dinamo, Gerakan Digital Nasional

By Novita Kusumaningrum on Jun 21, 2014


mjeducation.com


Internet sebagai media baru, memiliki kekuatan untuk menggerakkan massa. Gerakan sosial dengan memanfaatkan internet pernah terjadi di kawasan Arab. Revolusi yang disebut Arabs Springs ini berawal dari Tunisia dan merambah ke negara Arab lainnya melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, Youtube, dan berbagai blog. Hal tersebut ditengarai juga terjadi di Indonesia. Peneliti media sosial Merlyna Lim dalm tulisannya yang berjudul The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia, menyebutkan peran warung-warung internet yang mulai hadir di awal tahun 1998 membantu penyebaran informasi mengenai pergerakan sosial dan politik.


Bahkan belum lama ini, pada tahun 2012, para calon gubernur juga memanfaatkan media sosial untuk menyentuh masyarakat. Melihat efektivitas media digital sebagai alat perjuangan, Public Virtue Institute menyelenggarakan Digital Nation Movement (Dinamo) di Yogyakarta, Kamis (12/06/14). Acara yang berlangsung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri, Universitas Gadjah Mada (UGM) ini dihadiri oleh ratusan anak muda dan penggiat media. Public Virtue merupakan lembaga yang selama ini bergerak di bidang aktivisme sosial dan demokrasi digital.


mjeducation.com


Dalam jumpa pers yang berlangsung di tempat yang sama, terungkap bahwa tujuan penyelenggaraan acara ini untuk memberi wadah bagi anak muda berbagi pengalaman, merumuskan gagasan dan konsolidasi kerja demi perubahan digital di Indonesia. Inspirator dalam acara tersebut, Alissa Wahid mengatakan, anak muda memiliki gairah yang luar biasa, jika dikelola dengan baik dapat mendatangkan perubahan positif.


“Dinamo ingin memberikan ruang kontribusi untuk anak muda. Sehingga anak muda yang suka berinteraksi melalui sosial media diperkuat menjadi kanal perubahan sosial di ranah negara,” ujarnya. Alissa menyebut anak muda Jogja sebagai trendsetter di kalangan warga digital (netizenship). Beberapa istilah anak muda yang kini dikenal seperti woles pertama kali digunakan oleh anak-anak Jogja. Hal ini menjadi salah satu dasar pemilihan Kota Jogja sebagai tempat penyelenggaraan Dinamo kedua. Dinamo pertama berlangsung di Jakarta pada tahun 2013.


Pembicara ternama yang hadir untuk mengisi acara tersebut yakni Alissa Wahid putri sulung mantan presiden RI Abdurrahman Wahid sebagai keynote speaker, selain itu hadir novelis dan penggiat digital Iwan Setyawan, seniman Agung Kurniawan, dan praktisi media Vindra. Dinamo 2014 diinisiasi oleh sejumlah lembaga petisi seperti change.org, Pamflet, iLab, Youthcoop dan Yousure. Salah seorang penggagas Yousure, yang juga praktisi media, Wisnu Marta Adiputra menegaskan perlunya kebijakan bermedia. Ia menyebutkan bahwa informasi di internet sangat beragam sehingga dibutuhkan kepiawaian dalam memilih informasi yang terpercaya. Pengguna media perlu memiliki kecerdasan dalam pemanfaatannya.


“Kita harus perhatikan informasi yang didapatkan di internet itu sumbernya dari mana, jika halaman yang menampilkan berita itu tidak jelas siapa pemiliknya dan anonym sebaiknya abaikan saja. Informasi yang tidak jelas sebaiknya dibuang saja, jangan disimpan ataupun dibagikan ke orang lain karena itu adalah sampah. Bisa jadi informasi yang kita bagikan ke orang lain itu menyulut emosi berakibat pembakaran rumah atau kejadian yang merusak lainnya,” ujar Wisnu. Beberapa perwakilan lembaga yang turut meramaikan acara tersebut di antaranya ICW, Walhi Yogyakarta, SIGAB, Satu dunia, The Asia Foundation, dan Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia (APJII).

Author: Novita Kusumaningrum


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Digital / Dinamo / Gerakan / Nasional dengan judul "Dinamo, Gerakan Digital Nasional".http://soal2online.blogspot.com/2014/07/dinamo-gerakan-digital-nasional.html.

ARTIKEL TERKAIT: