Saturday, July 12, 2014

Indonesia Channel Akhiri BSBI 2014

By Novita Kusumaningrum on Jun 23, 2014


mjeducation.com


Kemajuan Indonesia dan globalisasi merupakan dua hal yang tidak dapat dielakkan, oleh karenanya Indonesia harus bisa memanfaatkan dua kondisi tersebut untuk kepentingan bangsa dan negara. Terkait hal tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) sejak 12 tahun lalu menyelenggarakan program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Tercatat hingga tahun 2014 BSBI sudah meluluskan 588 peserta dari 56 negara di dunia. Khusus untuk 2014, BSBI meluluskan 70 peserta dari 46 negara.


Para alumni BSBI menjadi friends of Indonesia yang membantu promosi di negara masing-masing. Demikian yang diungkapkan Direktur Diplomasi Publik, Kemenlu RI, Al Busyra Basnur pada jumpa pers di Yogyakarta, Selasa (17/6/14). “Tujuan pemberian beasiswa ini adalah mengenalkan kepada generasi muda dari negara sahabat mengenai ragam identitas dan kepribadian bangsa Indonesia yang khas seperti saling menghargai kebhinekaan, kekeluargaan, kesantunan, toleransi dan keterbukaan,” jelas Busyra.


Lebih lanjut Busyra menjelaskan, program BSBI diisi dengan rangkaian kegiatan. Pada minggu pertama, peserta mengikuti orientasi awal di Jakarta, dilanjutkan dengan pelatihan selama tiga bulan, dan diakhiri dengan pentas seni oleh para peserta BSBI yang disebut dengan Indonesia Channel. Kegiatan pelatihan selama tiga bulan berlangsung di beberapa sanggar seni budaya di Indonesia. Peserta diajak untuk mempelajari Bahasa Indonesia, aneka seni budaya dan agama, serta kekayaan kearifan lokal.


Pada tahun 2014, pelatihan berlangsung di lima sanggar seni budaya di lima kota, yakni Saung Angklung Udjo Bandung, Soeryo Soemirat Surakarta, Studio Tydif Surabaya, Samarandana Denpasar, dan Rumah Budaya Rumata Makassar. Penutupan BSBI 2014 berlangsung di Auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta pada Kamis (19/6/14). Indonesia Channel 2014 dibuka oleh Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik serta Sri Sultan Hamengkubuwono X dengan dihadiri oleh tokoh seniman dan budaya, pejabat Pemerintah Daerah, Corps Diplomatic, dan pelajar/mahasiswa dari DIY dan sekitarnya yang diperkirakan berjumlah 3.500 orang.


Kemenlu sengaja memilih Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan penutupan BSBI, karena dinilai sebagai daerah yang ramah akan perbedaan. “Kami sengaja memilih Yogyakarta untuk pelaksanaan Indonesia Channel 2014 yang bertema Unity in Difersity. Menurut kami, Yogyakarta merupakan miniatur masyarakat yang multi kultural. Kita bisa menemukan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dan mereka dapat hidup berdampingan secara harmonis di tempat ini,” tambah Busyra.


Penerima BSBI mempelajari aneka ragam kekhasan Indonesia. Mereka belajar berbahasa Indonesia dan menggunakannya untuk bercakap-cakap dalam kehidupan sehari-hari. Selama mengikuti program ini, para peserta tinggal di rumah penduduk sehingga mereka dapat berinteraksi secara langsung dan kontinu dengan penduduk. Selain bahasa, mereka juga belajar seni budaya seperti tari-tarian, nyanyian daerah, adat istiadat dan upacara-upacara keagamaan.


Peserta juga terlibat secara aktif dalam kegiatan kebudayaan setempat, sehingga tidak heran jika mereka hadir dalam upacara perkawinan, sunatan, bersih desa, ruwatan dan kegiatan-kegiatan semacamnya. Kemenlu mengalokasikan waktu kunjungan ke pusat kebudayaan di masing-masing daerah untuk meningkatkan pemahaman budaya.


Lebih lanjut Busyra menjelaskan mengenai program BSBI. Di samping Program Reguler, terdapat Program Kekhususan. Melalui program ini, peserta mendapat pengenalan lebih mendalam terhadap satu bentuk seni budaya. Pada tahun 2010 Program Kekhususan diberikan kepada 10 seniman lukis muda dari empat negara. Pada tahun 2011, peserta program ini berjumlah sembilan orang dari negara Asean yang memiliki pengetahuan tekstil untuk diperkenalkan mengenai produksi batik. Sementara pada tahun 2012, tema program ini yakni Future Faith Leaders diikuti oleh 15 calon pemuka agama dari 11 negara termasuk Indonesia.


Tema Program Kekhususan pada tahun 2013 yakni Indonesian Studies for Indonesian Diasporas berlangsung di Jurusan Hubungan Internasional, UPN Veteran Yogyakarta dan diikuti oleh 10 peserta dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Inggris, Jerman, Italia, Suriname, Rusia, dan Tunis. Sedangkan Indonesian Studies for Future Indonesianist menjadi tema Program Kekhususan tahun 2014 yang berlangsung di kampus yang sama dengan diikuti oleh 10 peserta dari beberapa negara seperti Vietnam, Jerman, dan Rusia.


Perbedaan iklim, bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang bagi mereka mengikuti program dari Kemenlu ini. Menurut Emilia, salah seorang peserta dari Inggris, cuaca di Indonesia sangat berbeda dengan cuaca di negaranya. Iklim tropis terasa sangat panas akhir-akhir ini. “Saya bisa katakan Indonesia sungguh hot,” ujarnya diikuti gelak tawa awak media yang mengikuti jumpa pers siang itu. Emilia merasa kesulitan untuk berkomunikasi sebab pada awal kedatangannya, ia belum lancar berbahasa Indonesia, sementara keluarga di mana ia tinggal tidak dapat berbahasa Inggris.


Emilia mengaku banyak memperoleh pelajaran berharga selama tiga bulan berdiam di Indonesia. “Saya mendapat banyak pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Selama tinggal di sini saya melihat orang Indonesia hidup dalam suasana agamis, hal ini menyadarkan saya untuk melakukan hal yang serupa. Saat ini saya merasa lebih tenteram dan damai,” ungkapnya.


Tak jauh berbeda dengan Emilia, Linsey dari Afrika juga merasa senang tinggal di Indonesia dan baginya waktu tiga bulan itu terasa sangat singkat. “Masih ada banyak hal yang belum saya pelajari, ingin rasanya tinggal lebih lama lagi di sini. Selama di Solo, saya belajar menari dan memainkan gamelan tetapi yang sangat terasa bagi saya adalah kebiasaan warga setempat yang melakukan berbagai hal secara perlahan-lahan. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di negara asal saya yang menuntut kecepatan dan kedisiplinan. Awalnya saya juga kaget karena mereka tidak tepat waktu hampir dalam setiap kegiatan, namun lama-kelamaan saya pun merasa baik-baik saja jika datang terlambat pada acara-acara,” tutur Linsey. Beberapa peserta BSBI yang hadir siang itu memberikan apresiasi luar biasa kepada Pemerintah RI yang telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk memahami lebih jauh mengenai seluk-beluk negeri ini.

Author: Novita Kusumaningrum


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Akhiri / Channel / Indonesia dengan judul "Indonesia Channel Akhiri BSBI 2014".http://soal2online.blogspot.com/2014/07/indonesia-channel-akhiri-bsbi-2014.html.

ARTIKEL TERKAIT: