Saturday, July 12, 2014

Pendidikan di Finlandia: Kompetisi, No! Inklusif, Yes!

By Lunyka Adelina on Jul 11, 2014

Pada zaman globalisasi seperti sekarang, mengenyam pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Sejatinya pendidikan itu sendiri tidak hanya memiliki single purpose (satu tujuan) melainkan multi purpose (beragam tujuan). Selengkapnya pendidikan adalah media bagi seseorang untuk menambah ilmu terkait berbagai aspek kehidupan dan mengetahui bagaimana ilmu tersebut dipahami dan dipraktikkan. Selain itu, pendidikan dapat membentuk cara berpikir, logika dan karakter seseorang untuk lebih siap menghadapi tantangan dan memecahkan permasalahan di masa kini dan masa depan serta mampu memberikan manfaat dan perubahan berarti bagi masyarakat.


Sayangnya, pendidikan seakan sudah berganti fungsi sebagai wadah kompetisi bagi sebagian orang di banyak negara. Mereka pun seakan melupakan nilai-nilai murni dari pendidikan itu sendiri yang sebetulnya dapat membawa manfaat lebih banyak dengan jangkauan yang lebih luas. Pendidikan sering dijadikan sekadar ajang persaingan nilai dan kepemilikan atas fasilitas pendukung pendidikan canggih seperti laboratorium, gadget dan komputer/laptop oleh sekolah, guru dan murid.


Beruntungnya, masih ada negara seperti Finlandia yang dapat dijadikan panutan bagaimana pendidikan yang sesungguhnya mampu dimaknai secara baik oleh pemerintah, para siswa dan guru di sana. Di negara beribu kota Helsinki ini, pemerintahnya mempunyai prinsip bahwa pendidikan bukanlah kompetisi dan setiap individu mempunyai hak yang sama dalam menuntut ilmu.


Oleh karenanya, tidak ada private school (sekolah swasta). Hanya ada public schools (sekolah-sekolah negeri) dan semuanya gratis pula. Hal ini dipercaya akan menghindarkan masyarakat Finlandia dari situasi yang sering terjadi di Amerika Serikat di mana berkembang asumsi bahwa sekolah swasta lebih baik daripada sekolah negeri.


Umumnya semua sekolah di Finlandia juga menerapkan kebijakan yang ‘memaksa” para murid untuk menggunakan sepeda, menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki, dan menghindari penggunaan mobil pribadi. Hal ini dimaksudkan agar murid lebih mandiri dalam berangkat ke sekolah dan menghindarkan mereka dari persaingan secara materi di lingkungan sekolah.


Dari segi hak sebagai manusia, murid-murid di Finlandia tidaklah dibebani dengan berbagai macam homework (perkerjaan rumah/PR). Seluruh kegiatan belajar harus dimaksimalkan di sekolah dan berorientasi pada pengembangan inovasi, kreativitas dan proses pemecahan masalah. Kebijakan semacam ini dimaksudkan agar para murid tidak kehilangan kesempatan bermain dan dapat memanfaatkan waktu selepas pulang sekolah untuk kegiatan bermanfaat lain.


Uniknya di Finlandia, para guru dan kepala sekolahnya memiliki tanggung jawab dan gaji yang sama. Equality (persamaan) ini otomatis memaksimalkan peran setiap tenaga pengajar agar mampu membimbing setiap siswa dengan baik. Perlu diketahui, bahwa guru di Finlandia adalah profesi yang sangat dihargai dan kualifikasi untuk menjadi seorang guru atau kepala sekolah juga cukup berat yaitu harus sudah bergelar S2 dan rajin mengikuti training (pelatihan) yang diselenggarakan oleh pemerintah. Tentu hal ini bermanfaat untuk mencegah adanya ketimpangan kualitas guru antara sekolah yang satu dengan yang lainnya.


Selain itu, Pemerintah Finlandia memberikan kebebasan luar biasa pada guru di setiap jenjang pendidikan dan kelas untuk menciptakan panduan mengajarnya sendiri. Sebab pemerintah meyakini setiap kelompok siswa mempunyai karakter tersendiri dalam proses belajar dan tidak bisa diadu satu sama lain sehingga tidak efektif jika mengimplementasikan standar yang terlalu kaku dan seragam. Maka jangan heran jika di Finlandia kita menemukan dalam satu sekolah terdapat perbedaan pendekatan belajar antara satu kelas dengan kelas lainnya. Format pelaksanaan ujian atau tesnya juga merupakan hak prerogatif setiap guru namun sistem penilaian tetap mengikuti standar nasional.


Persamaan kualitas peralatan penunjang proses belajar-mengajar juga diusung dengan serius. Hal ini dibarengi dengan distribusi anggaran pendidikan dari pemerintah pusat secara adil dan merata ke setiap sekolah. Kebijakan ini merupakan upaya pencegahan terhadap munculnya istilah sekolah terbaik, terfavorit atau paling bermutu.


Selain poin-poin di atas, dalam penyelenggaraan pendidikan di Finlandia terbangun kepercayaan para orang tua murid kepada guru yang sangat kuat bahwa guru adalah tenaga profesional yang memang dipersiapkan untuk membimbing anak-anak mereka. Selanjutnya diantara sesama guru pun terbentuk sistem kolaborasi yang solid dalam menyelesaikan masalah-masalah tertentu terkait proses belajar-mengajar.


Meskipun terbilang cukup aneh atau ekstrem, hasilnya sistem pendidikan Finlandia tergolong sangat inklusif dan dipercaya sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Ini dapat dilihat dari tingkat drop-out atau putus sekolah di negara berpopulasi 5,4 juta orang ini hanya sekitar 1%.


Sementara pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 yang diikuti 65 negara, Finlandia berada di ranking 12 untuk bidang math (matematika), ranking 6 untuk bidang reading (bacaan atau literatur), dan ranking 5 untuk bidang science (ilmu pengetahuan). Pencapaian ini jelas mengalahkan Amerika Serikat yang hanya berada di peringkat 26, 17 dan 21 untuk tiga bidang yang sama padahal selama ini negara Paman Sam selalu digadang-gadang memiliki sistem pendidikan kelas wahid di dunia. Terakhir, 93% lulusan sekolah menengah atas di Finlandia sukses melanjutkan pendidikan ke universitas.

Author: Lunyka Adelina


View the original article here

Penulis: Unknown Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Finlandia / Inklusif / Kompetisi / Pendidikan dengan judul "Pendidikan di Finlandia: Kompetisi, No! Inklusif, Yes!".http://soal2online.blogspot.com/2014/07/pendidikan-di-finlandia-kompetisi-no.html.

ARTIKEL TERKAIT: