Saturday, July 12, 2014

Pentingnya Budaya Berinovasi di Swedia

By Lunyka Adelina on Jun 20, 2014


 


Hidup dalam realitas bahwa dunia sudah terkoneksi satu sama lain (globalized world) membuat iklim kompetisi semakin ketat. Alasan ini pula yang mendorong setiap negara berusaha sedemikian rupa untuk meningkatkan inovasinya masing-masing. Selain itu, semakin banyaknya inovasi dari suatu negara yang diakui secara internasional, semakin meningkat pula pertumbuhan ekonomi negara tersebut.


Bicara inovasi, biasanya kita akan melirik ke Jepang dan Amerika Serikat sebagai negara yang unggul dalam menghasilkan berbagai penelitian, penemuan dan produk terobosan. Namun, tahukah Anda jika ternyata Swedia menempati urutan kedua di dunia setelah Swiss versi Global Innovation Index 2013 sebagai negara paling inovatif. Jika diingat, banyak merek (brand) yang sering kita dengar berasal dari negara yang berpenduduk 9 juta orang ini seperti H&M (fashion), Ericsson (teknologi komunikasi), Electrolux (alat-alat elektronik untuk rumah tangga), IKEA (furniture), dan Volvo (otomotif). Terlebih lagi putra-putra terbaik Swedia ternyata memberikan sumbangsih luar biasa bagi seluruh umat manusia melalui beberapa penemuan (invention) seperti dinamit (oleh Alfred Nobel di tahun 1865), three point seat-belt (oleh Nils Bohlin saat bekerja di Volvo tahun 1959), serta bluetooth (oleh Jaap Haartsen dan Sven Mattisson yang pengembangannya kemudian dibantu grup peneliti perusahaan Ericsson di tahun 1994).


Sementara, di tingkat regionalnya, Swedia memang negara yang memiliki komitmen tinggi dalam berkontribusi mewujudkan ambisi Uni Eropa untuk menjadikan Eropa secara keseluruhan sejajar dengan Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan terkait inovasi. Memang, menurut EU Regional Innovative ScoreBoard hingga kini baru Swedia di peringkat pertama dan diikuti Jerman, Finlandia dan Denmark yang memiliki konsistensi terbaik dalam melakukan penelitian dan menelurkan ciptaan-ciptaan jeniusnya sehingga keempat negara tersebut dikategorikan sebagai grup innovative leaders di Uni Eropa (Swiss tidak dimasukkan karena bukan anggota Uni Eropa).


Secara umum, prestasi yang diraih Swedia tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor pendukung seperti budget yang diterapkan setiap perusahaan di Swedia bagi proses penelitian dan pengembangan (research and development), tingkat kesejahteraan penduduknya dan jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh para peneliti dan mahasiswa jenjang doktoral. Di samping itu, fokus pemerintah Swedia pada sektor penelitian sangatlah tinggi. Bahkan, kemampuan Pemerintah Swedia untuk menghindari krisis ekonomi 2008 dan instabilitas ekonomi yang umumnya sedang dialami oleh negara-negara Uni Eropa lain, ini pula yang memudahkan perencanaan dan pencairan dana anggaran jangka panjang tahun 2013-2016 sebesar 11,5 miliar krona untuk memperkuat iklim penelitian di seantero Swedia.


Untuk melancarkan national goal ini Pemerintah Swedia pun dibantu oleh VINNOVA (lembaga di bawah kontrol Pemerintah Swedia) yang bertugas merancang sistem pengembangan inovasi nasional yang efektif, memayungi berbagai riset penelitian di seantero Swedia, mengelola dana riset pusat dan mendistribusikan bantuan finansial pada perusahaan dan sektor publik yang sedang melakukan riset.


Menariknya, Pemerintah Swedia pun menyadari bahwa jiwa inovatif seseorang tidaklah terbentuk secara instan saat dia dewasa melainkan harus dipupuk sedari usia dini melalui pendidikan berkelanjutan yang bermutu dan mampu menjadi fondasi bagi pergulatan ide-ide segar para generasi muda. Hal inilah yang mendorong Pemerintah Swedia untuk mendukung konsep ‘free education”.


Free education di Swedia sendiri dapat dijabarkan secara komprehensif sebagai berikut:


Pertama, Pemerintah Swedia memberlakukan pendidikan gratis dari pendidikan dasar hingga universitas bagi semua warganya. Ini bertujuan agar warga negaranya mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan dan mengakomodir siswa-siswa berprestasi untuk lebih bebas mengembangkan kemampuan dan jiwa inovatif mereka tanpa terbebani biaya sekolah.


Kedua, terciptanya lingkungan pendidikan yang eligariter dan non-hirarki sehingga semua guru dan murid dapat berkolaborasi atau bekerja sama dalam berkreativitas mengembangkan suatu ide. Tipe lingkungan seperti ini dipercaya menumbuhkan semangat para murid untuk menjadi individu percaya diri yang berpengaruh (influential person) bagi dirinya sendiri dan sekitarnya.


Ketiga, selain mendorong semangat team-work di sekolah, pemerintah Swedia menekankan pada individualistic education di setiap sekolah yang dapat dimulai saat murid berada di kelas 6. Artinya setiap murid akan mempunyai satu guru pendamping yang dapat diajak berdiskusi mengenai minat sang murid dan buku-buku yang tepat sebagai bahan bacaan untuk mengembangkan minat tersebut. Dengan tetap berada di bawah bimbingan sang guru, murud-murid diberi kebebasan untuk mempraktikkan teori-teori yang mereka pelajari. Selain itu pemerintah juga mengizinkan pendirian sekolah-sekolah swasta yang berkonsentrasi pada bidang-bidang tertentu seperti olahraga, musik dan seni sehingga pengembangan ide-ide kreatif di bidang ini juga dapat tumbuh baik dan tidak kalah dengan bidang science.


Selanjutnya, komitmen pemerintah Swedia pada budaya berinovasi tidak hanya ditanamkan pada generasi muda di negaranya. Semua pelajar dan mahasiswa asing di Swedia juga diharapkan mampu “berpikir fleksibel” dan mengikuti apa yang telah diraih para inovator Swedia, atau paling tidak dapat menjadi pribadi dengan pemikiran yang unik. Alasan ini pula yang mendasari pemerintah Swedia membuat gebrakan baru dengan menciptakan tipe beasiswa lain bagi warga asing (saat ini masih terfokus pada Amerika Serikat, India dan Brazil) yaitu Challenge Your Perspectives. Beasiswa ini menguji para partisipan dengan berbagai pertanyaan terkait pengetahuan internasional, kebudayaan Swedia, bidang yang akan dilamar (umumnya di bidang science dan teknologi), dan pada akhirnya para partisipan akan disuguhi pertanyaan kasus yang akan membuktikan sejauh mana dapat mengimplementasikan teori-teori yang mereka kuasai dengan pendekatan yang kreatif dan inovatif.


Budaya berinovasi di Swedia juga semakin kuat karena visi universitas-universitas di sana sangat bersinergi dengan program pemerintah di mana mereka membuka bidang studi seperti Management and Innovative ataupun Entrepreneurship and Innovative sehingga para calon inovator memiliki pengetahuan lengkap yang dapat berguna untuk mengembangkan dan memperkuat ide-ide mereka.


Akhirnya, Swedia pun dapat memberi kita contoh bahwa budaya berinovasi membutuhkan komitmen bersama dari segala pihak dan komitmen tersebut harus dijalankan secara kontinu dan konsisten. Satu lagi contoh lain yang patut kita tiru dari Swedia adalah prinsip today’s idea shapes tomorrow’s world.

Author: Lunyka Adelina


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Berinovasi / Budaya / Pentingnya / Swedia dengan judul "Pentingnya Budaya Berinovasi di Swedia".http://soal2online.blogspot.com/2014/07/pentingnya-budaya-berinovasi-di-swedia.html.

ARTIKEL TERKAIT: