Wednesday, August 27, 2014

Batik Menjadi Alat Pengentasan Kemiskinan yang Efektif

Jakarta, Kemdikbud – Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan (Wamenbud), Wiendu Nuryanti mengatakan bahwa batik telah menjadi alat pengentasan masyarakat dari kemiskinan yang sangat efektif. Hal itu karena omset penjualan batik setelah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO naik 400 persen atau mencapai lebih dari Rp 10 triliun.

“Batik menyerap sekitar lima juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung. Ini belum termasuk mbok-mbok yang menjual bahan alam yang dijadikan pewarna alami, ada pula sopir yang mendistribusikan batik-batik dari produsen ke tempat-tempat penjualan. Mereka ini ada sekitar tiga juta orang,” ungkap Wiendu dalam jumpa pers yang diselenggarakan di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (26/8/2014).

Wiendu menambahkan, sekitar 60 persen orang yang menggeluti batik adalah wanita. Mereka tidak hanya terdiri dari pekerja, tetapi ada pula yang berperan sebagai pengelola, seperti direktur, atau pemegang keputusan, hingga pemilik sebuah unit usaha batik. “Kita dapat jumpai di desa-desa yang menjadi sentra batik benar-benar membuktikan bahwa peran wanita melalui batik ini sangat luar biasa,” katanya.

Itulah mengapa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membangun Museum Batik Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta yang direncanakan dimulai pada 2015 mendatang. Museum Batik Indonesia ini penting dalam menjamin mata rantai dalam meneruskan pengembangan batik ke depan.  (Ratih Anbarini)


View the original article here

Penulis: Unknown Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Batik / Efektif / Kemiskinan / Menjadi / Pengentasan dengan judul "Batik Menjadi Alat Pengentasan Kemiskinan yang Efektif".http://soal2online.blogspot.com/2014/08/batik-menjadi-alat-pengentasan.html.

ARTIKEL TERKAIT: