Wednesday, August 20, 2014

Belajar dari Keputusan Kasus AQJ

Loading ... Loading ...

pesan laka anak di motor

MAJELIS Hakim Pengadilan Jakarta Timur membebaskan AQJ, 13 tahun. Anak musisi kondang, Ahmad Dhani itu oleh majelis hakim dikembalikan kepada orangtuanya. Sekitar sebelas bulan lalu, AQJ memicu kecelakaan yang menewaskan tujuh orang di jalan tol Jagorawi, persisnya pada Minggu, 8 September 2013 sekitar pukul 00.45 WIB.

Laman vivanes.com mengutip Ketua Majelis Hakim yang menyatakan, AQJ bukan anak nakal, hanya kurang perhatian, dan korban dari keadaan keluarga yang kurang harmonis. “Maka itu, majelis mengembalikan terdakwa kepada orangtuanya,” kata Ketua Majelis Hakim seperti dilansir vivanews.com, Rabu, 16 Juli 2014.

Di sisi lain, seperti dilansir tempo.co, AQJ atau Dul, terutama Ahmad Dhani dianggap sudah bertanggung jawab terhadap para korban. “Banyak yang sudah dilakukan pihak terdakwa sebagai aksi pertanggungjawaban terhadap para korban,” ujar Fetriyanti, ketua majelis hakim.

Ahmad Dhani dianggap sudah bertanggung jawab dengan mengganti semua biaya pengobatan dan pemakaman para korban. Dia juga dianggap telah menjamin pendidikan anak-anak korban tewas hingga jenjang perguruan tinggi.

Sekalipun dibebaskan, AQJ divonis bersalah. Dia divonis melanggar pasal 310 Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pasal tersebut sesungguhnya memuat ancaman sanksi bahwa pengemudi yang lalai lalu mengakibatkan kecelakaan dan menimbulkan kerusakan kendaraan/barang bisa kena sanksi penjara paling lama enam bulan dan/atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Namun, jika lalai dan menimbulkan kecelakaan hingga korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang sanksinya ada juga, yaitu penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2 juta. Sedangkan, jika akibat kelalaian pengemudi dan menimbulkan kecelakaan dengan korban luka berat, penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10 juta. Lalu, kalau bikin orang lain meninggal dunia, penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Kembali soal keputusan majelis hakim terhadap AQJ. Pembelajaran paling penting bagi saya ada pada kalimat majelis hakim yang mengatakan, “AQJ bukan anak nakal, hanya kurang perhatian, dan korban dari keadaan keluarga yang kurang harmonis.”

Selain itu, kalimat “Bila harus dijatuhi pidana, bisa memberikan stigma negatif. Sanksi pidana bisa berpengaruh pada kejiwaan anak.”

Pepatah bahwa buah jatuh tak jauh dari pohon, rasanya amat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak, terlebih anak di bawah umur, butuh sosok orang tua dalam proses pengembangan diri. Ajaran dan didikan orang tua amat mempengaruhi pertumbuhan sang anak.

Anak di bawah umur, yakni mereka yang belum mencapai usia 17 tahun, masuk ke kelompok yang masih menjadi tanggung jawab para orang tua. Bagaimana mungkin mereka menjadi pelaku kecelakaan di jalan jika tidak mendapat ‘restu’ dari orang tua untuk berkendara, entah mengendarai mobil atau sepeda motor. Padahal, usia di bawah umur belum stabil secara emosional, bahkan juga belum mampu mengimbangi tunggangannya.

Peran orang tua amat dominan. Keluarga menjadi garda terdepan dalam menanamkan perilaku berkendara yang aman dan selamat (road safety). Apalagi jika kita melongok data Korlantas Mabes Polri tentang anak-anak usia 10-15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan. Data kepolisian menyebutkan, kelompok usia tersebut sumbangannya meningkat menjadi 7,15% dari semula 5,12% pada 2012. Maklum, dari sisi jumlah orang yang menjadi pelakunya pun meningkat, yakni dari rata-rata 18 orang per hari menjadi 20 orang per hari pada 2013. Artinya, jika di bawa ke ranah pengadilan, setiap hari bakal ada 20 anak-anak di bawah umur yang harus menjadi pesakitan. Dan, AQJ hanya salah satu dari ke-20 anak-anak tersebut.

Pembelajaran yang amat berharga dari kasus AQJ tentu saja bagaimana para orang tua harus berbuat sekuat tenaga melindungi anak-anaknya. Para orang tua harus mampu menanamkan nilai-nilai keselamatan di jalan kepada sang anak. Mengajarkan bahwa berkendara di jalan raya memiliki risiko, bisa ditabrak atau menabrak. Berkendara bukan semata hanya membetot tali gas dan menginjak rem, ada aspek penting seperti mentaati aturan dan sudi toleran.


View the original article here

Penulis: Unknown Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Belajar / Kasus / Keputusan dengan judul "Belajar dari Keputusan Kasus AQJ".http://soal2online.blogspot.com/2014/08/belajar-dari-keputusan-kasus-aqj.html.

ARTIKEL TERKAIT: