Wednesday, August 20, 2014

Semangat Mengajar Meski Terkadang Harus Menginap di Gua

Jakarta, Kemdikbud -- Mengajar di daerah terpencil tidak membuat Yustina Sedik patah semangat. Lahir, tumbuh, dan besar di Papua Barat membuat wanita ini mendedikasikan hidupnya untuk mengajar siswa-siswi yang tinggal di daerah yang memiliki sarana dan prasarana seadanya. Sudah 17 tahun Yustina menjadi seorang guru. Mengajar untuk pertama kalinya pada 1997, Yustina ditugaskan di daerah transmigrasi, Distrik Moswaren di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat sampai 2005.

Dari sana, ia ditugaskan mengajar di SD YPPK Aifam, sebuah sekolah swasta di bawah dinas pendidikan yang terletak di Desa Aifam, Kecamatan Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. “Manis-pahit kami alami, karena kami putra daerah sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi?” kata Yustina usai menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh di Jakarta, Sabtu (16/8).

Meski harus bersusah payah mengajar di daerah terpencil, Yustina mengaku bangga karena perjuangannya membawa ia bersama 67 guru lain menjadi bagian dari Guru Sekolah Dasar Khusus (Gurdasus) tahun 2014. Lebih dari satu minggu ia diundang ke Jakarta dengan sejumlah agenda penting. Misalnya pada Sabtu (16/8) pagi, ia berkesempatan bersilaturahim bersama Ibu Ani Yudhoyono di Istana Negara.

“Saya sangat bangga, karena di akhir masa jabatan Bapak Presiden, saya dan teman-teman dari Gurdasus bisa diundang. Kami juga bisa ikut detik-detik kemerdekaan RI bersama beliau. Ibu Ani berpesan agar kami terus semangat dan tidak menyerah melaksanakan tugas di situasi sesulit apapun,” ungkapnya.

Untuk mencapai lokasi mengajar, kata Yustina, hanya dapat ditempuh dengan jalur darat. Dari Kota Sorong ke Kabupaten Maybrat hanya dapat ditempuh dengan mobil jenis L200 selama satu hari penuh. “Kami sewa Rp 2 juta untuk sekali jalan,” ujarnya. Sampai di kabupaten tujuan, ia juga masih harus menembus hutan sejauh lima kilometer. Jika hari terlalu malam, ia terpaksa menginap. “Bukan di rumah, tetapi di gua. Inilah risiko yang memang harus kami jalani,” tambah Yustina.

Meski harus berhadapan dengan sulitnya medan, ia tetap mencintai profesinya sebagai guru. Selain mengajar, Yustina juga diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Muridnya kini berjumlah 78 orang yang terbagi dari kelas 1 hingga kelas 5. Ia dibantu oleh empat tenaga lain. Dua di antaranya adalah tenaga kontrak dengan swadaya masyarakat. Dua lainnya adalah relawan berijazah SMA dan SMP yang ia bina untuk membantu mengajar siswa-siswi di sekolahnya.

Kesempatan diundang bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Jakarta ia manfaatkan betul. Yustina mengusulkan agar di tempatnya mengajar juga tersentuh bantuan program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T). “Di sekolah kami memang kekurangan tenaga guru. Saya berharap bisa dibantu dengan tenaga SM3T,” katanya.

Ia mengaku tidak mudah hidup di daerah terpencil. Belum ada listrik yang mengalir di kampung tempatnya tinggal. Demikian pula dengan sinyal telepon selular. Bahkan karena jauh dari perkotaan dan jalan raya, ia terpaksa meminta bantuan pada dua tenaga relawan di sekolahnya untuk mencari bahan makanan. “Saya bebaskan mereka untuk tebang sagu, pergi ke kebun, nanti saya dan yang lain mengolahnya menjadi makanan yang kemudian kami makan bersama-sama,” ujar Yustina. (Ratih Anbarini)


View the original article here

Penulis: Unknown Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Harus / Mengajar / Menginap / Meski / Semangat / Terkadang dengan judul "Semangat Mengajar Meski Terkadang Harus Menginap di Gua".http://soal2online.blogspot.com/2014/08/semangat-mengajar-meski-terkadang-harus_20.html.

ARTIKEL TERKAIT: