Thursday, September 18, 2014

Airmata Itu Tumpah di Hadapan Wakil Presiden

Jakarta, Kemdikbud--- Film pendek itu memang hanya berdurasi sepuluh menit. Tapi telah membuat jiwa guru-guru SM3T tercabik-cabik dan terguncang. Emosinya meluap dalam derai air mata. Bukan lagi tetesan air mata, tapi tumpahan air mata.

Itulah pemandangan yang terjadi dalam acara Silaturahim Nasional SM3T dengan Wakil Presiden Boediono, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kami (18/9) siang.

Film itu mengisahkan tentang perjalan guru-guru SM3T dengan segala suka-duka dan rintangan yang mereka hadapi. “Sebelum pemutaran tadi, saya tiga kali memutar film ini di hadapan tiga orang yang berbeda, dan selalu yang menyaksikan berlinang air mata haru,” kata Mendikbud Mohammad Nuh.

Ini bukan sekadar film dokumenter tentang pengabdian guru di pelosok Nusantara yang dilakukan oleh guru-guru SM3T, melainkan ungkapan dari para peserta SM3T terhadap anak-anak usia sekolah, di daerah pelosok dalam sentuhan kemanusiaan, bukan hanya mengajar.

"Ketika seorang guru SM3T berjilbab memeluk erat anak sekolah Injil yang menangis karena mendengar kabar akan ditinggalkan, tidak ada lagi sekat agama dan adat istiadat. Yang ada adalah sentuhan kemanusiaan seorang pendidik muda terhadap sesama anak bangsa," kata Mendikbud.

Wakil Presiden Boediono mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata bahwa ia sangat bahagia bisa bertatap muka dengan guru-guru SM3T, generasi muda yang penuh semangat untuk mengabdi dan bisa diandalkan. “Anda adalah pejuang, perintis untuk pendidikan di daerah 3T, sebuah program yang sangat-sangat baik. Ini membutuhkan semangat yang luar biasa. Pengalaman Anda adalah bekal yang luar biasa dan sangat berharga,” kata Wakil Presiden.

Netya, asal Papua beberapa kali mengusap air matanya yang tidak terasa membasahi pipinya. “Saya terharu melihat tayangan film itu. Saya menangis karena melihat orang yang bukan berasal dari Papua, bukan orang asli Papua tapi mau berjuang seperti itu untuk anak-anak Papua,” katanya.

Sri Minarti dari Universitas Negeri Malang (UM) mengatakan, perjuangasn guru SM3T luar biasa. Bisa memotivasi anak yang tidak mau sekolah menjadi sekolah, meski harus melampaui wilayah yang sulit. Sri bangga menjadi guru SM3T.

Film ini dibuka dengan adegan anak-anak sekolah dasar di pedalaman Papua yang sedang melantunkan lagu daerah Lancang Kuning dari Riau dan Suwe Ora Jamu dari Jawa Tengah oleh seorang guru Kifli Ningsih.

Suasana hening menyertai adegan demi adegan, yang kadang terselip juga kisah lucu, ketika seorang guru SM3T asal Medan, Ryna Anzelina Nainggolan, yang ditempatkan di SDN Guninggame, Lanny Jaya, bercerita ketika ia mau dilamar oleh pemuda Papua dengan mas kawin sekawanan babi, hewan paling mahal di pedalaman Papua. Pemuda itu berkata, “Ibu guru, kalo engkau sudah datang ke sini, engkau harus bersuami orang sini juga, orang Guninggame juga,” kata Ryna menirukan ucapan pemuda Papua itu.

Sementara kisah mengharukan disuguhkan ketika adegan dua pengajar SM3T Winda Yulia dan Geugeut Annafi yang gugur terseret arus sungai simpang jernih, di pedalaman Aceh, ketika melaksanakan tugas. Juga saat suasana perpisahan guru SM3T, Obi Efleni yang bertugas di SD YPPGI Nokapaka, Lanny Jaya, dengan murid-murid yang penuh dengan curahan air mata.

Sungguh Program SM3T telah meninggalkan kenangan amat dalam, baik bagi mereka yang menjalankan maupun siswa, guru, kepala kampung, dan kepala daerah, yang telah ditempati para guru SM3T. Program ini memang layak untuk diteruskan. Semoga (Sukemi)


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Airmata / Hadapan / presiden / Tumpah / Wakil dengan judul "Airmata Itu Tumpah di Hadapan Wakil Presiden".http://soal2online.blogspot.com/2014/09/airmata-itu-tumpah-di-hadapan-wakil.html.

ARTIKEL TERKAIT: