Friday, September 26, 2014

Pelestarian Warisan Budaya Indonesia Perlu Sinergi

Jakarta, Kemdikbud --- Saat ini, Indonesia telah memiliki empat Warisan Dunia untuk Budaya yang telah ditetapkan UNESCO, yaitu: kawasan candi Borobudur, kawasan candi Prambanan, kawasan situs manusia purba Sangiran, dan lansekap budaya Bali Subak. Indonesia juga telah memiliki enam Warisan Budaya Takbenda, yaitu: wayang Indonesia, keris, batik, angklung, tari Saman Gayo Lues, dan Noken tas rajut multi fungsi dari Papua. 

Pengakuan dunia atas warisan budaya Indonesia tersebut bukanlah suatu tujuan akhir. Tetapi hal terpenting adalah bagaimana semua warisan budaya bangsa Indonesia dapat lestari dan dinikmati nilai-nilai budayanya bagi generasi yang akan datang, baik generasi Indonesia maupun dunia.

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berusaha keras agar setiap tahun mendapatkan penetapan-penetapan Warisan Dunia. Karenanya, Kemdikbud mengembangkan sistem pencatatan/registrasi untuk menginventarisasi semua budaya dari seluruh Indonesia. Menginjak tahun ke-3 program tersebut, Kemdikbud telah berhasil mencatat lebih dari 4000 warisan budaya takbenda.

Setiap tahunnya, Kemdikbud juga memiliki sidang, sebagaimana format sidang yang dilakukan UNESCO, untuk menetapkan warisan budaya tak benda yang bisa ditetapkan secara nasional. Tahun 2013, Kemdikbud telah menetapkan sekitar 70 warisan budaya dan tahun ini akan menetapkan 100 warisan budaya tingkat nasional.

Namun demikian, upaya pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan budaya Indonesia tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat semata. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, saat memberikan sambutan pada  pembukaan Pameran Warisan Budaya Dunia Indonesia di Anjungan Aceh, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta (25/09/2014), mengharapkan adanya sinergi yang baik berbagai pihak.

“Kita bekerja keras dan memerlukan dukungan pemda, masyarakat dan berbagai macam komunitas, industri, termasuk peran swasta untuk bisa bersama-sama bekerja memanfaatkan peluang untuk mengirimkan nominasi ini kepada UNESCO,” ujarnya.
Wiendu juga memberikan beberapa contoh lainnya terkait upaya pelestarian budaya, misalnya dengan memasang replika sertifikat UNESCO di kantor-kantor pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga tingkat desa. “Misalkan sertifikat tari Saman dibuat replikanya untuk bisa dipasang di kantor kabupaten, kecamatan, dan lain sebagainya, desa untuk bisa mendekatkan rasa kepemilikan dari seluruh masyarakat aceh terhadap tari Saman,” katanya.

Terkait upaya promosi dan pengembangan, pada tahun lalu Kemdikbud menyelenggarakan Saman Summit dengan mengundang berbagai macam ahli dari seluruh dunia yang menggeluti penelitian di bidang tari  Saman. Kegiatan tersebut juga mendatangkan kelompok-kelompok tari Saman yang berkembang dari seluruh indonesia. 

Tahun ini, Kemdikbud juga  tengah mengajukan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) agar mendapat status penetapan Best Practice dari UNESCO mengingat pentingnya peran TMII terhadap pengembangan arisitektur tradisional di seluruh nusantara. “Mudah-mudahan jika TMII mendapatkan status sebagai model terbaik dari pelestarian budaya, makan seluruh arsitektur di Indonesia mendapatkan manfaatnya. Mudah-mudahan hal ini juga meningkatkan pengelolaan aset kebudayaan di TMII,” harap Wiendu. (Arifah)


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Budaya / Indonesia / Pelestarian / Perlu / Sinergi / Warisan dengan judul "Pelestarian Warisan Budaya Indonesia Perlu Sinergi".http://soal2online.blogspot.com/2014/09/pelestarian-warisan-budaya-indonesia.html.

ARTIKEL TERKAIT: