Saturday, September 20, 2014

Sekolah untuk suami agar sadar KB

 Murid-murid Sekolah untuk Suami berfoto bersama perintis sekolah ini Ibu Adiza Ba.

Di banyak negara, sudah biasa kaum perempuan di pedesaanlah yang bekerja keras dari pagi sampai malam, di luar dan di dalam rumah, sementara kaum pria bersantai-santai.


Negara Pantai Gading di Afrika memutuskan mengubah tradisi ini dengan menyelenggarakan sekolah untuk para suami, dan sekaligus untuk mengajarkan tentang program keluarga berencana.


Pelajaran biasanya diadakan di bawah pohon mangga. Setiap murid mengenakan seragam kaos oranye dan duduk di kursi plastik.


Adiza Ba, perempuan perintis Sekolah untuk Para Suami tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


Ibu Ba, yang merupakan Petugas Program Perubahan Perilaku Nasional, bertugas mengelilingi Pantai Gading dengan berbekalkan sebuah poster besar.


Di setiap desa, ia mengumpulkan para lelaki dan membuka posternya yang menggambarkan keluarga yang baru pulang dari bekerja di ladang.


Di poster itu terlihat seorang ibu yang berjalan di pinggir jalan dengan mengangkut keranjang berat di kepalanya.


Seorang bayi berada di gendongan yang disandang di punggungnya dan seorang balita digendong di lengannya sementara sang bapak naik sepeda tanpa mengangkut apa pun dan bersiul-siul.


"Yang lucu, para lelaki biasanya tidak menyadari bahwa perempuanlah yang biasanya melakukan semua hal,"kata Ibu Ba.


"Dan ketika mereka melihat gambar ini, mereka bertindak seolah-olah terkejut."


"Saya harus yang menunjukkan kepada mereka bahwa pada malam hari, perempuan jugalah yang mengambil air, memandikan anak-anak, membuat makan malam dan membersihkan rumah, sementara suami mereka hanya mandi dan pergi untuk mengobrol dengan teman mereka. Sebagian dari mereka memang mulai menyadari bahwa ini tidak adil," katanya.


Di antara para murid, terdapat Kouayou Kouayou yang menjadi selebritas di komunitas petani di daerah Sakassou.


Menurut cerita orang-orang setempat, Kouayou adalah seorang dukun yang sering dipanggil orang sebagai "Sang Nabi".

Koauyou Kouayou "Sang Nabi" kini mengajarkan program keluarga berencana.


Walau terlihat muda, dengan hanya sedikit uban, Kouayou sudah punya 26 orang anak dan empat istri.


"Dalam budaya kami, semakin banyak anak, semakin kaya dan semakin bergengsi si orang tua, dan saya punya anak paling banyak di desa ini,"kata Kouayou.


Walaupun demikian, Kouayou kini mengenakan seragam oranye dan kembali ke bangku sekolah. Namun, ia memiliki tugas lain: membujuk para suami lain untuk tidak mengikuti jejaknya.


"Jika jarak antar bayi dijaga, bayi akan lahir lebih sehat dan juga akan lebih baik untuk para wanita,"Kouayou menjelaskan.


Namun, kata Ibu Ba, yang bekerja untuk Dana Kependudukan PBB, mengajarkan tentang pengontrolan kelahiran bukan hal yang mudah.


"Sejumlah pria khawatir menggunakan alat kontrasepsi bisa membuat istri mereka steril," kata Ibu Ba.


"Saya jelaskan bahwa perempuan itu seperti pohon mangga, mereka bisa berbuah dan lalu perlu waktu untuk istrirahat."


"Seorang istri memerlukan waktu untuk menjaga bayinya dan untuk bisa tetap cantik untuk suaminya. Jika sang istri menjadi 'layu' terlalu cepat maka sang suami akan mencari perempuan lain," Ibu Ba menjelaskan.


Sejumlah suami lain sangat curiga jika menggunakan alat kontrasepsi, tutur Ibu Ba.


"Mereka berpikir istri mereka akan menggunakannya untuk bersenang-senang dengan lelaki lain karena mereka tidak akan hamil sesudahnya, jadi tidak akan ketahuan, sehingga kami harus menjelaskan apa itu alat kontrasepsi.

sakassou Sakassou menjadi salah satu desa yang memiliki Sekolah untuk Suami.


Ibu Ba memulai programnya dua tahun lalu dengan empat sekolah percobaan termasuk sekolah di Sakassou ini. Pada akhir tahun depan akan ada 52 sekolah seperti ini di desa-desa di seluruh Pantai Gading.


Namun tujuan utama Ibu Ba bukan hanya membuat para pria lebih mau membantu di rumah, kurang egois atau menggunakan kontrasepsi.


Selain semua itu, Ibu Ba ingin meyakinkan para pria bahwa pemeriksaan kandungan sebelum bayi lahir tidaklah membuang-buang waktu dan lebih aman bagi wanita untuk melahirkan di rumah sakit daripada di desa.


Pantai Gading kini memiliki tingkat motalitas ibu tertinggi di dunia.


Setiap hari, di seluruh Pantai Gading, 20 perempuan meninggal ketika melahirkan anak. atau mencapai angka yang hampir sama dengan Cina yang penduduknya 60 kali lipat lebih besar dari Pantai Gading.


View the original article here

Penulis: octa vinsu Lokasi: Jakarta, Indonesia

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori sadar / Sekolah / suami / untuk dengan judul "Sekolah untuk suami agar sadar KB".http://soal2online.blogspot.com/2014/09/sekolah-untuk-suami-agar-sadar-kb.html.

ARTIKEL TERKAIT: